19.3.12

Kebutuhan cairan dan Elektrolit

CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Jumlah cairan tubuh sesuai tingkatan usia :
1.  Janin/infant 100%
2.  Balita 80%
3.  Dewasa 60 - 70%
4.  Usia lanjut/ lansia/usila 50%

Sirkulasi Cairan & Elektrolit
Terjadi dalam 3 fase
1.      Plasma darah bergerak di seluruh tubuh dengan system sirkulasi. Nutrisi dan cairan diambil dari paru-paru dan GI tract.
2.      Cairan interstitial dan komponen-komponennya bergerak diantara kapiler darah dan sel.
3.      Cairan dan substansi selanjutnya bergerak dari cairan interstitial ke dalam sel.
Metode Pergerakan
1.      Difusi
-          Pergerakan larutan dari area yang konsetrasinya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah, sampai terjadi keseimbangan.
-          Kecepatannya dipengaruhi oleh :
a.       Ukuran molekul
Molekul yang besar lebih lambat dibandingkan molekul kecil.
b.      Konsentrasi larutan
Semakin tinggi konsentrasi semakin cepat bergerak.
c.       Temperatur
Semakin tinggi temperatur larutan semakin tinggi kecepatan difusi.
2.      Osmosa
-          Adalah perubahan/pergerakan cairan dari larutan yang konsetrasinya rendah ke konsentrasi tinggi dengan melalui selaput permeabel sel.
3.      Transport aktif
-          Membutuhkan energi.
-          Untuk mempertahankan konsentrasi ion sodium dan potassium pada ekstrasel dan intrasel.
-          Dikenal dengan “pompa sodium – potassium”
4.      Filtrasi
-          Adalah pergerakan cairan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.
  Keseimbangan Cairan
Ø  Adalah keseimbangan antara intake dan output.
Ø  Pemasukan cairan pada orang dewasa antara 1500 ml – 3500 ml.
Ø  Pengaturan pemasukan cairan tubuh dilakukan dengan mekanisme Haus.
Ø  Yang mentriger munculnya rasa haus adalah adanya dehidrasi sel, kelebihan Anglotensis II pada cairan tubuh, pendarahan, rendahnya cardiac output.
Ø  Pengeluaran cairan pada orang dewasa adalah 2300 ml/hari.
Ø  Organ utama yang mengeluarkan cairan adalah ginjal, yaitu 1500 ml perhari pada orang dewasa.
Ø  Tiga cara pengeluaran cairan :
1        Insensibel water loss  ( IWL ) yaitu melalui : penguapan melalui paru-paru.
2        Noticcabel water loss yaitu melalui kulit dan keringat.
3        Kehilangan cairan melalui feces (sangat sedikit).
Ø  Obligatory loss adalah kehilangan cairan yang harus terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tubuh, misalnya melalui keringat.
Ø  Mekanisme Homeostis cairan diatur oleh seluruh organ di dalam tubuh yaitu :
-          Ginjal
-          Kardiovaskular
-          Sistem Endokrin
-          Sistem Pernafasan
-          Paru-paru
-          Gl Tract 

Keseimbangan Elektrolit
Ø  Elektrolit terbanyak di dalam tubuh adalah :
-          Kation    :  Sodium, Potasium, Kalsium
-          Anion     :  Chlorida

A.    Sodium
-          Konsentrasi normal sodium diatur oleh ADH dan Aldosteron (diekstrasel).
-          Sodium tidak hanya bergerak ke dalam dan keluar tubuh, tetapi juga bergerak diantara tiga komponen cairan.
-          Fungsi utama sodium adalah membantu mempertahankan keseimbangan cairan, terutama interasel dan ekstrasel dengan system “Pompa Sodium – Potasium”.

B.     Potasium
-          Potasium adalah kation utama di dalam cairan intrasel.
-          Sumber potasium adalah  pisang, broccoli, jeruk dan kentang.
-          Keseimbangan potasium diatur oleh ginjal dengan cara :
1.      Perubahan/pergantian dengan ion sodium di tubulus ginjal dan sekresi aldosteron.
-          System Feedback Aldosteron – Potasium bekerja pada 3 tahap :
1.      Peningkatan konsentrasi ion potasium pada cairan ekstrasel yang disebabkan meningkatnya produksi aldosteron.
2.      Peningkatan kadar aldesteron meningkatkan jumlah ekstresi potasium oleh ginjal.
3.      Ekskresi potasium naik menyebabkan potasium ekstrasel turun.
-          Seperti elektrolit lain, potasium juga bergerak secara terus menerus dari ekstra ke intrasel.
-          Fungsinya sebagai relaksasi otot.

C.     Calsium
-          Makanan sumber kalsium adalah : susu dan productnya.
-          Fungsi kalsium adalah :
-          Pembentukan tulang
-          Transmisi impuls-impuls saraf
-          Kontraksi otot
-          Pembekuan darah
-          Aktivasi enzym tertentu

D.    Clorida
-          Termasuk anion besar pada cairan ekstrasel
-          Fungsi clorida adalah mempertahankan tekanan osmotik darah.
E.     Magnesium
-          Seperti calcium, mangnesium juga diatur oleh kel. Paratiroid.
-          Diabsorbsi dari intestinal.

F.      Bicarbonat (HCO3-)

G.    Phospat (PO4-)

Keseimbangan Asam – Basa
Ø  Kadar/derajat keasaman dan basa cairan digambarkan oleh konsentrasi ion Hidrogen (H+) dan ion Hidrosil (OH-).
Ø  Asam adalah subtansi yang berisi ion hydrogen yang dapat dibebaskan.
Ø  Basa adalah substansi yang dapat menerima hydrogen.
Ø  Satuan pengukuran yang digunakan untuk menggambarkan keseimbangan asam-basa adalah “pH”.
Ø  Rentang pH berkisar antara 1 – 14. Netral adalah 7 contohnya air murni.
Ø  Ion Hidrogen naik maka larutannya asam (pH < 7).
Ø  Ion Hidrogen naik maka larutannya basa (pH > 7) contohnya sekresi pancreas.
Ø  Plasma darah normalnya bersifat basa ringan dengan pH 7.35 – 7.45.
Ø  Acidosis adalah kondisi yang ditandai dengan kelebihan proporsi ion Hidrogen dalam cairan ekstrasel & pH < 7.35.
Ø  Alkolosis adalah keadaan di mana plasma darah kekurangan ion H+ dan pH > 7.45.
Ø  Untuk mempertahankan pH  n  ion hidrogen diatur oleh :
1.      Sistem Buffer
2.      Mekanisme pernafasan
3.      Mekanisme renal

Gangguan Keseimbangan Cairan, elektrolit dan Asam – Basa
A.    Ketidak seimbangan cairan
Ø  Terjadi bila mekanisme konpensasi tubuh tidak mampu mempertahan-kan homeostasis.
Ø  Yang dapat terjadi adalah :
1.      Fluid Volume Defisit (FVD)
-          Adalah defisiensi jumlah cairan dan elektrolit pada cairan ekstrasel, tetapi proporsi antara air dan elektrolit mendekati normal.
-          Dikenal juga dengan Hypovolemia.
-          Terjadi perubahan tekanan osmotik sehingga cairan interstitial masuk ke ruang intravaskular dan ruang interstitial kosong mengakibatkan cairan intrasel masuk ke ruang interstitial sehingga kehidupan sel terganggu.  
2.      Fluid Volume Excess (FVF)
-          Adalah kelebihan retensi air dan sodium pada cairan ekstrasel.
-          Disebut juga sebagai Hypervolemia.
-          Penyebab terbanyak adalah mal fungsi ginjal.
-          Kelebihan cairan ekstrasel dapat ditimbun di jaringan yang dikenal dengan edema. Sering terjadi pada mata, jari, pergelangan kaki.
-          Edema terjadi karena :
1.      Peningkatan tekanan hidrostatik.
2.      Penurunan tekanan osmotik
Ketidakseimbangan Elektrolit
1.      Hyponatremia dan Hipernatremia
-          Hyponatremia adalah kekurangan sodium pada cairan ekstrasel yaitu terjadi perubahan tekanan osmotik sehingga cairan bergerak dari ekstrasel ke intrasel mengakibatkan sel membengkak merupakan akibat lain dari Hyponatremia.
-          Hipernatremia adalah kelebihan sodium pada cairan ekstrasel sehingga tekanan osmotik ekstrasel meningkat mengakibatkan cairan intrasel keluar sel mengalami dehidrasi.
2.      Hypokalemia dan Hyperkalemia
-          Hypokalemia adalah kekurangan kadar potasium dalam cairan eksrasel sehingga potasium keluar dari sel mengakibatkan hidrogen dan sodium ditahan oleh sel maka terjadi gangguan (perubahan) pH plasma.
-          Jaringan otot adalah organ yang pertama menunjukkan gejala defisiensi.
-          Hyperkalemia adalah kelebihan kadar potensium pada cairan ekstrasel. Kasusnya sangat jarang walaupun ada akan membahayakan karena transmisi implus jantung akan terhambat yang menyebabkan cardiac arresi.  
3.      Hypokalsemia dan Hyperkalsemia
-          Hypokasemia menunjukkan kekurangan kalsium pada cairan ekstrasel sehingga kalsium akan disuplai dari tulang dan bila berlangsung lama terjadi osteomalasia.
-          Hyperkalsemia adalah kelebihan kalsium pada ciran ekstrasel.
4.      Hypomagnesemia dan Hypermagnesemia
5.      Hypopospatemia dan Hyperpospatemmia


Ketidakseimbangan Asam - Basa 
Ø  Dapat dikaji dengan menggunakan test laboratorium dari plasma.
Ø  Tekanan partial CO2 = PCO­2
Ø  Tekanan partial O2 = PO2
Ø  Bila PCO2 meningkat maka asam Carbonat akan meningkat disebut Asidosis.
CO2 + H2O à H2CO3 (dan sebaliknya)
Ø  Pengukuran pH PCO2 dan PO2 menggunakan darah arteri.
Ø  Ketidakseimbangan asam basa terjadi bila perbandingan antara asam Carbonat dan Bicarbonat menjadi tidak proporsional.
Ø  Gangguannya dikenal sebagai :
1.      Asidosis :
-          Respiratorik         - Metabolik
2.      Alkalosis :
-              Respiratorik     - Metabolik

 
ASIDOSIS RESPIRATORIK
Ø  Tanda-tanda Klinis :
1.      Sedikit ekshalasi, nafas dangkal, pernafasan terganggu menyebab-kan Hypoventilasi.
2.      Adanya tanda-tanda depresi SSP, gangguan kesadaran, disorientasi.
3.      Plasma (pH) < 7.35  Urine (pH) < 6
4.      PCO2 tinggi (di atas 45 mm Hg)

ASIDOSIS METABOLIK
Tanda dan Gejala
1.      Pernafasan kusmaul (cepat dan dalam)
2.      Kelelahan
3.      Disorientasi
4.      Coma
5.      pH plasma rendah
6.      PCO2 normal atau rendah jika sudah terjadi kompensasi
7.      Bicarbonat rendah
-          Anak dibawah 20 meq/l
-          Dewasa dibawah 20 meq/l

RESPIRATORIK ALKALOSIS
Disebabkan karena
-          Deman
-          Cemas
-          Infeksi paru 
Ginjal berusaha meningkatkan sekresi Bicarbonat dan menahan Hidrogen 

METABOLIK ALKALOSIS
Karena kelebihan Bicarbonat
-          Kelebihan intake
-          Muntah yang terus menerus


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keseimbangan Cairan Elektrolit
1.      Usia
Infant    -    Banyak intake dan banyak keluar.
-          Karena metabolisme yang tinggi.
-          Masalah yang muncul karena imaturitas ginjal.
-          Pengeluaran mll ginjal, paru-paru dan penguapan.
Lansia   -     Gangguan dihubungkan dengan masalah ginjal dan jantung karena ginjal tidak mampu mengatur konsentrasi urin.
 
2.      Temperatur Lingkungan
-          Lingkungan yang panas menstimulasi system saraf sympatis yang menyebabkan orang berkeringat.
-          Pada cuaca yang sangat panas seseorang akan kehilangan : 
700 ml – 2000 ml air/jam
15 gr – 30 gr garam/hari

3.      Diet
-          Diet a/ mempengaruhi intate cairan elektrolit.
-          Intake nutrisi yang tidak adekuat mempengaruhi serum albumin sehingga albumin menurun menyebabkan cairan interstitial tidak ke pembuluh darah disebut Odem.
 
4.      Situasi Stress
-          Situasi stress mempengaruhi metabolisme sel, konsentrasi glukosa darah dan glycolisis otot.
-          Stress dapat juga mencetuskan munculnya anti diuretik hormon sehingga produksi urin menurun.

5.      Keadaan Sakit
-          Luka bakar
-          Gagal ginjal
-          Payah jantung


ASUHAN KEPERAWATAN

I.             Pengkajian
Pengkajian keperawatan ditujukan difokuskan pada :
1.      Pola Intake
-    Gambarkan/uraikan jumlah dan tipe cairan yang biasanya dikonsumsi.
2.      Pola Eliminasi
-          Gambarkan kebiasaan bekemih
-          Apakah ada perubahan baik dalam jumlah maupun frekuensi 
-          Bagaimana karakteristik urine.
-          Apakah tubuh banyak mengeluarkan cairan, bila ya melalui apa ?
Muntah
Diare
Berkeringat  
3.      Evaluasi Status Hydrasi Klien
-          Apakah ada tanda-tanda :
Edema
Rasa haus yang berlebihan
Membran mukosa kering
4.      Apakah klien sedang dalam proses penyakit yang dapat mengganggu keseimbangan cairan, misalnya : DM, kanker, luka bakar, dan sebagainya.
5.      Riwayat pengobatan yang dapat mengancam gangguan keseimbangan cairan misalnya :
-          Steroid
-          Diuretik
-          Dialisis

Pemeriksaan Fisik
Parameter yang dapat mengetahui adanya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit :
Ø  Intake dan output cairan tidak seimbang
Ø  Volume dan konsentrasi urine
Ø  Turgor kulit
Ø  BB turun dengan tiba-tiba
Ø  Temperatur tubuh yang sangat tinggi
Ø  Edema
Ø  Vital sign yang abnormal
Ø  Nilai Centra Venus Pressure (CVP) yang abnormal

Pemeriksaan Laboratorium
1.      Poemeriksaan darah lengkap (jumlah sel darah merah, Hb, hematokrit)
-          Ht naik : adanya dehidrasi berat dan syok
-          Ht turun : adanya pendarahan akut, masiv, traksi hemolitik
-          Hb naik : hemokonsentrasi
-          Hb turun : adanya pendarahan hebat, reaksi hemolitik
2.      Pemeriksaan serum elektrolit
-          Sodium
-          Potasium
-          Clorida
3.      pH dan berat jenis urine
-          Berat jenis menunjukkan kemampuan ginjal untuk mengatur konsentrasi urine.
4.      Analisa gas darah
-          Untuk mengetahui keadekuatan oksigenisasi, ventilasi dan asam-basa.
-          Biasanya diperiksa : pH, PO2, HCO3-, PCO2, dan saturasi O2
-          PCO2 normal : 35 – 40 mm Hg
-          PO2 normal : 80 – 100 mm Hg
-          HCO2 normal : 25 – 29 Meq/lt
-          Saturasi O­2 : perbandingan Oksigen di dalam darah dengan jumlah Oksigen yang dapat dibawa darah.Normal : 95% - 98%  pada arteri dan 60% - 85%  pada Vena.

Interpretasi
Asidosis :
1.      CO2 naik : CO2 + H2O à H2CO3 
2.      HCO3- turun : HCO3 bersifat basa

Alkalosis
1.      CO2 turun : tidak terbentuk Asam Bicarbonat
2.      HCO3 naik : kadar basa naik

Dalam ketidakseimbangan asam-basa karena respiratorik nilai pH dan PCO­2 yang abnormal atau sebaliknya.
Bila metabolic, nilai pH dan HCO3- kedua meningkat atau rendah.
Keadaan
pH
PCO2
HCO3-
Asidosis Respiratorik
Asidosis Metabolik
Alkalosis Respiratorik
Alkalosis Metabolik
Turun
Turun
Naik
Naik
Naik
Normal
Turun
Normal
Normal
Turun
Normal
Naik  
 
Contoh lain :
pH  : 7,25 berarti rendah
PCO2 : 31 berarti rendah
HCO3- : 12 berarti rendah

Analisa :
Terjadi asidosis metabolik, karena : pH dan HCO3-  keduanya rendah. PO2 rendah menandakan adanya usaha kompensasi tubuh melalui paru-paru untuk mengeluarkan CO2.

I.             Diagnosa Keperawatan
Lingkup diagnosa utama
1.      Perubahan volume cairan : kelebihan
2.      Perubahan volume cairan : potensial kekurangan
3.      Perubahan volume cairan : aktual kekurangan

Contoh diagnosa keperawatan
1.      Intoleransi aktivitas sehubungan dengan dyspnea dan ekresi yang berlebihan.
2.      Cemas sehubungan dengan edema baru.
3.      Tidak efektifnya pola pernafasan sehubungan dengan mekanisme kompensasi paru.
4.      Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan edema.
5.      Berkurangnya Cardiac output sehubungan dengan berkurangnya volume cairan.
6.      Potensial injuri sehubungan dengan iritabilitas neuromuskular.
7.      Kurang pengetahuan tentang efek penggunaan alkohol, diuretic, laksatif dan edema.
8.      Perubahan membran mukosa mulut sehubungan dengan dehidrasi.
9.      Gangguan intregritas kulit sehubungan dengan dehidrasi, edema.
10.  Perubahan proses fikir sehubungan dengan edema cerebri.
11.  Perubahan perfusi jaringan sehubungan dengan berkurangnya cardiac output.
12.  Perubahan pola eliminasi sehubungan dengan berkurangnya perfusi ginjal sekunder terhadap berkurangnya volume plasma.
 
II.          Planning
Tujuan Klien akan :
1.      Mempertahankan keseimbangan intake dan output cairan.
2.      Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal.
3.      Menunjukkan perilaku yang dapat meningkatkan keseimbangan carian, elektrolit dan asam-basa.
4.      Mempertahankan intake cairan dan elektrolit yang adekuat.
Intervensi
Terdiri dari :
1.      Mencegah terjadinya ketidakseimbangan cairan.
a.       Kenali kejadian-kejadian tertentu dalam kehidupan yang dapat mengarah kepada masalah ketidakseimbangan cairan.
b.      Catat intake makanan dan cairan klien.
c.       Observasi dan catat apakah klien mengalami rasa haus yang berlebihan.
d.      Hati-hati terhadap adanya kehilangan cairan tubuh yang berlebihan dan usahakan untuk mencegah kehilangan tersebut bila mungkin, misalnya : muntah, diare, pengeluaran urine yang berlebihan.
e.       Perhatikan program pengobatan yang dapat mempengaruhi keseimbangan cairan dari elektrolit.
f.       Memperhatikan kondisi yang dapat mencetuskan efek destruktif pada tubuh misalnya : trauma, luka bakar, prosedur pembedahan.
g.      Ajarkan klien untuk mengobservasi dan melaporkan adanya gejala-gajala ketidakseimbangan carian, misalnya : kenaikan dan penurunan BB yang capat, kelemahan otot, perubahan sensasi kulit.
 
2.      Monitoring intake dan output cairan
a.       Monitoring intake dan output cairan ditujukan pada :
-          Klien post operatif
-          Klien yang mendapat Total Parenteral Nutition (TPN) dan terapi intravena.
-          Klien yang terpasang kateter urine.
-          Klien yang dibatasi intake cairannya.
-          Klien yang mengalami kehilangan cairan yang berlebihan dan perlu mendapat tambahan inake cairan.
-          Klien yang mendapat terapi diuretik.
b.      Unit/satuan pengukuran yang digunakan adalah ml atau cc
c.       Pengukuran intake biasanya menggunakan ukuran rumah tangga misal : 1 gelas air minum = 200 cc
d.      Pencatatan dan pelapiran intake dan output dilakukan per shift (PSM).
e.       Bagi klien yang mendapat terapi intravena pencatatan harus lebih spesifik.
3.      Pemberian cairan dan elektrolit per orang
a.       Penambahan intake cairan dapat diberikan per orang pada klien-klien tertentu, misal :
-          klien dengan DHF
-          klien dengan dehidrasi ringan
b.      Penambahan intake cairan biasanya di atas 3000 cc per hari.
c.       Pemberian elektrolit peroral biasanya melalui makanan atau minuman.
d.      Peran perawat adalah membantu memberikan daftar makanan yang mengandung banyak elektrolit tertentu.
e.       Yang biasanya membutuhkan tambahan elektolit adalah :
-          masa kehamilan
-          pertumbuhan cepat
4.      Pemberian therapy intravena
-          Pemberian therapy intravena merupakan metode yang efektif untuk memenuhi cairan ekstra sel secara langsung.
-          Pemberian infus diprogramkan oleh dokter.
-          Tanggung jawab perawat adalah memberikan dan mensukseskan therapy tersebut.
-          Tujuan therapy intravena adalah :
1.        Memenuhi kebutuhan cairan pada klien yang tidak mampu mengkonsumsi cairan per oral secara adekuat.
2.        Memberikan masukan-masukan elektrolit untuk menjaga keseimbangan elektrolit.
3.        Menyediakan glukosa untuk energi dalam proses metabilisme.
4.        Memberikan vitamin yang larut dalam air.
5.        Membuat saluran/aliran dalam memasukkan obat-obatan melalui vena.
-          Jenis  cairan intravena yang biasanya digunakan :
1.      Larutan Nutrient
-          Berisi beberapa jenis karbohidrat dan air, misal : Dextrose & Glukosa.
-          Yang umum digunakan adalah :
-          5% Dextrose in water (D5W).
-          Glukosa dalam saline (3,3% Glukosa dalam 0,3% NaCl).
-          5% Glukosa dalam 0,45% NaCl
-          Setiap 1 liter cairan Dextrose 5% mengandung 170 – 200 kalori.
-          Berisi asam amino, misal : Amigen, Aminosol, Travamin
-          Berisi lemak : Lipomul, Lyposyn.
 
2.      Larutan Elektrolit
-          Antara lain adalah larutan salin baik Isotonik, Hypotonik dan Hypertonik.
-          Yang terbanyak digunakan adalah normal saline (Isotonik) yaitu NaCl 0,9%.
-          Contoh larutan elektrolit lain
-          Cairan Riger’s Lactate : Na+, K+, Cl-, Ca2+, HCO3-
-          Cairan Butler’s : Na+, K+, Mg2+, Cl-, HCO3-
 
3.      Cairan Asam-Basa
-          Contohnya Sodium Lactate dan Sodium Bicarbonat
-          Lactate adalah garam yang dapat mengikat ion H+ dari cairan sehingga mengurangi keasaman.
  
4.      Blood Volume Expanders
-          Berfungsi meningkatkan volume pembuluh darah atau plasma, misal : hemorrage, luka bakar yang berat.
-          Blood volume expanders yang umumnya digunakan :
-          Dextran
-          Plasma
-          Serum Albumin
-          Cara kerjanya adalah meningkatkan tekanan osmotic darah.

Tempat-tempat pemasangan infus
Pada orang dewasa biasanya infus dipasang di daerah :
-          Lengan bagian dalam
-          Tangan
-          Kaki
Pada bayi biasanya dipasang pada daerah kepala.

Untuk pemasangan infus dalam waktu lama yang pertama harus digunakan adalah vena bagian distal.

INTERVENSI KEPERAWATAN PADA PASIEN YANG TERPASANG INFUS
1.      Mempertahankan infus intravena
Ø  Terhadap klien dengan pen. Kes
Ø  Terhadap daerah pemasangan
2.      Memenuhi rasa nyaman dan bantuan aktifitas
-          Memenuhi personal hygiene
-          Membantu mobilitas :
-          Turun dari tempat tidur
-          Berjalan
-          dan sebagainya
3.      Observasi komplikasi yang mungkin terjadi.
Ø  Infiltrat    : masuknya cairan ke subkutan
Gejala  :    bengkak, dingin, nyeri, tetesan infus lambat.
Ø  Plebitis     : Trauma mekanik pada vena atau iritasi bahan kimia misal Kcl
Gejala  :    Nyeri, panas, kemerahan pada vena tempat pemasangan
Ø  Kelebihan intake cairan
Akibat tetesan infus yang terlalu cepat.
4.      Mengatur tetesan infus
Ø  Dilakukan setiap 30 menit sampai dengan 1 jam.
Ø  Tetesan terlalu cepat menyebabkan masalah pada paru-paru dan jantung.
Ø  Tetesan yang lambat menyebabkan intake cairan dan elektrolit tidak adekuat.
Ø  Faktor yang mempengaruhi jumlah tetesan :
1.      Posisi pemasangan
2.      Posisi & patency tube
3.      Tinggi botol infus
4.      Kemungkinan adanya infiltrat

5.      Mengganti botol infus
Ø  Dilakukan jika cairan sudah berada di leher botol dan tetesan masih berjalan.
Ø  Tidak boleh lebih dari 24 jam.
Ø  Prosedur :
1.      Siapkan botol yang baru
2.      Klem selang
3.      Tarik jarum dan segera tusukkan pada botol yang baru
4.      Gantungkan botol
5.      Buka klem dan hitung kembali tetesan
6.      Pasang label
7.      Catat tindakan yang dilakukan

6.      Mengganti selang infus
Ø  Minimal 3 x 24 jam
Ø  CDC merekomendasikan, tidak lebih dari 2 x 48 jam
Ø  Langkah-langkah :
1.      Siapkan botol infus set yang baru, termasuk botol.
2.      Masukkan cairan sepanjang selang dan gantungkan botol serta tutup klem.
3.      Pegang poros jarum dan tangan yang lain melepaskan selang.
4.      Tusukkan tube yang baru ke poros jarum.
5.      Langkah berikutnya sama dengan memasang infus baru.

7.      Menghentikan infus
Ø  Dilakukan bila program terapi telah selesai atau bila akan mengganti tusukan yang baru.
Ø  Langkah-langkah :
1.      Tutup klem infus.
2.      Buka tape pada daerah tusukan sambil memegang jarum.
3.      Tarik jarum secepatnya dan beri penekanan pada daerah bekas tusukan dengan kapas alkohol selama 2-3 menit untuk mencegah perdarahan.
4.      Tutup daerah bekas tusukan dengan kasa steril.
5.      Catat waktu menghentikan infus dan jumlah cairan yang masuk dan yang tersisa dalam botol.

Transfusi Darah  
Adalah memasukkan darah lengkap atau komponen darah ke dalam sirkulasi vena.
Tujuan :
1.      Mengembalikan jumlah darah setelah perdarahan berat/hebat.
2.      Mengembalikan sel darah merah mis : pada anemia berat.
3.      Memberikan faktor-faktor plasma seperti anti hemofilik.

Reaksi-reaksi tranfusi :
1.      Hemofilik
Terjadi apabila aglutinogen dengan anti aglutinin dengan type sama bertemu.
2.      Fobris
Karena adanya kontaminasi pada darah atau sensitivitas dari sel darah putih.
3.      Reaksi alergi  
-          Jarang terjadi
-          Biasanya karena adanya anti bodi pada plasma donor
Resiko tranfusi yang utama adalah transmisi penyakit : Sifilis, Malaria, Hepatitis, AIDS

I.             Evaluasi
1.      Output urine klien seimbang dengan intake cairan.
2.      Karakteristik urine menunjukkan fs ginjal yang baik.
3.      Klien akan mengkonsumsi cairan sesuai dengan program (peroral, therapy intra vena, atau TPN).

Prosedur
Alat-alat digunakan :
1.      Cairan infus
2.      Infus set
3.      Jarum infus : obocath wing needell
4.      Kassa steril, pinset
5.      Plester, pengalas
6.      Betadin atau salf antiseptik
7.      Kapas alkohol, bengkok
8.      Spalk bila diperukan
9.      Sarung tangan bila perlu
10.  Alat untuk menbendung/torniquet

Langkah
Rasional
1.      Siapkan peralatan dan bawa ke dekat klien.

2.      Cek ulang program therapy klien
Mengurangi resiko terjadinya kesalahan
3.      Jelaskan prosedur kepada klien termasuk tujuan dari tindakan
Penjelasan yang tepat dapat mengu-rangi kecemasan klien
4.      Perawat cuci tangan
Mencegah berkembangnya mikro-organisme
5.      Siapkan cairan infus dan infus set
Mencegah berkembangnya mikro-organisme
A.    Pertahankan teknik aseptic ketika membuka cairan dan pack infus.
B.     Klem slang infus & masukan jarum besar ke botol infus.
C.     Tekan ruangan Drip dan masukan cairan sampai setengah ruangan.

D.    Isi selang infus dengan carian dan cegah jangan sampai ada udara yang tertinggal dalam selang.



Efek penghisapan menyebabkan carian berpindah dan mencegah masukknya udara
Udara dapat masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan emboli
6.      Siapkan posisi nyaman klien
Memberikan rasa nyaman dan memudahkan perawat bekerja.
7.      Kaji tempat penusukan infus
Mengurangi ketidaknyamanan klien dan memungkinkan kerusakan jaringan.
8.      Jika daerah penusukan ditumbuhi rambut, cukur daerah tersebut ± 2 inc.
Rambut merupakan sumber penyebar-an mikroorganisme plester akan susah dilepaskan pada daerah yang beram-but.
9.      Pasang tourquiet ± 5-7 inc dari daerah yang akan ditusuk untuk keamanan cek arteri radialis.
Membendung aliran darah sehingga vena distensi dan memudahkan vena dilihat dipalpasi dan ditusuk.
Langkah
Rasional
10.  Bersihkan daerah penusukan dengan kapas alkohol dengan arah melingkar dari tengah ke tepi.
Membawa mirooroganisme menjauhi pusat/titik penusukan.
11.  Gunakan tangan yang =  dominan untuk menekan vena dibawah daerah penusukan ± 1-2 inc.
Mencegah bergesernya vana ketika jarum dimasukan.
12.  Tusukkan jarum dengan posisi 300 – 400. Jika jarum telah menembus kulit ubah posisi jarum sejajar dengan kulit dan tusuk ke vena. Jika jarum telah masuk ke vena akan muncul “A sensation of Give”.
Memudahkan jarum masuk ke vena dan meminimalkan trauma.
13.  Jika darah telah memasuki lumen jarum, dorong perlahan-lahan sampai posisi tepat
Jika darah telah berada di lumen jarum berarti jarum telah masuk ke vena, karena pembendungan dengan trourniquet menyebabkan tekanan naik sehingga mengakibatkan darah mengisi lumen jarum.
14.  Tangan yang tidak dominan menekan vena dan tangan yang dominan menghubungkan ujung jarum dengan infus set lakukan dengan cepat dan cermat.
Mengurangi perdarahan dan memper-tahankan posisi jarum.
15.  Lepaskan tourniquet dan kepalan tangan klien serta buka klem pada infus set.
Mencegah terjadinya clothing pada aliran infus.
16.  Periksa daerah sekitar penusukan apakah terdapat tanda-tanda infiltrasi.
Bila jarum tidak tepat pada vena menyebabkan cairan menumpuk di jaringan.
17.  Bila tidak ada tanda-tanda infiltrasi, fiksasi dan balut daerah tusukan dengan kassa dan betadin (antiseptik lain).
Mempertahankan posisi jarum dan mencegah infeksi.
18.  Atur tetesan infus sesuai program.

19.  Observasi keadaan klien terus ½ jam setelah pemasangan.

20.  Catat : tanggal pemasangan, jenis dan jumlah cairan, alat yang digunakan.





j


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar